Senin, 29 Maret 2010

Sesajen



Sesajen Bali

Upakara (Sesajen)
Adapun upakara atau sesajen dan sarana yang merupakan inti adalah : Banten saji Dewa Putih Kuning, Jerimpen Agung, Sesayut, Pangulapan, Pengambyan, Benang Tri Datu (tiga .warna : merah, putih, hitam) satu tukel (satu gulung),uang kepeng 225 biji yang diikatkan pada benang
tridatu. Sebuah tutup (tombak) yang diikat dengan benang tridatu dialasi l buah kelapa yang dikupas serabutnya, diisi beras, pada ujung tombak dilengkapi dengan "Sat- sat" dari janur di samping sebuah daksina palinggih dan kain sebagai Tigasana.
Penjelasan:
Jumlah dan sarana upakara (sesajen) disesuaikan dengan kemampuan (desa, kala, patra) serta petunjuk Pinandita atau Pandita.


Para penghuni Bali yang tidak tampak – dewa, roh para leluhur, dan roh-roh jahat – diperlakukan oleh penduduk Bali sebagai tamu kehormatan dengan persembahan sesajen (banten) dalam berbagai bentuk, warna dan isi. Pemberian ini adalah pemberian terbaik – sebagai pernyataan terima kasih kepada para dewa, dan membujuk roh-roh jahat agar tidak mengganggu keharmonisan kehidupan.

Sesajen sederhana dipersembahkan setiap hari, sedangkan sesajen istimewa dipersiapkan untuk acara-acara keagamaaan tertentu. Sebagai contoh, setelah makanan harian dipersiapkan, sedikit bagian dari makanan tersebut disisihkan untuk para dewa penghuni rumah sebelum keluarga mengkonsumsi makanan tersebut. Selain itu, para dewa juga disajikan canang kecil – tray daun kelapa yang diisi berbagai jenis bunga dan sirih sebagai simbol keramah-tamahan.

Sebagai persembahan yang diberikan untuk roh yang lebih tinggi, banten ini harus diatur sedemikian rupa agar menarik, dan tentunya hal ini membutuhkan pengorbanan waktu dan tenaga yang cukup besar. Daun-daun dipotong dan dirangkai sedemikian rupa menjadi bentuk-bentuk yang menarik (jejaitan). Berbagai jajan dibentuk menjadi lempengan tipis dan bahkan menjadi bahan dominan banten yang memiliki arti simbolis yang kuat selain fungsi dekoratifnya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa persiapan banten merupakan bagian dari bentuk seni tradisi yang penting yang masih
berlaku di Bali.

Sesajen Upacara
Untuk setiap upacara yang dilakukan, diperlukan sesajen yang beraneka ragam dan dalam jumlah besar. Terdapat ratusan jenis sesajen – nama, bentuk, ukuran dan bahan yang digunakan begitu beraneka ragam. Selain itu, terdapat juga perbedaan antara sesajen yang dipersembahkan oleh satu daerah dan daerah lain, dan bahkan dari satu desa ke desa lain. Tetapi bentuk dasar dari sesajen itu sendiri tidak jauh berbeda. Nasi, buah-buahan, kue, daging dan sayuran ditata sedemikian rupa dalam wadah yang dialas dengan daun kelapa dan dihiasi dengan dekorasi dari daun kelapa, yang disebut sampian, yang juga berfungsi sebagai wadah tempat sirih dan kembang.

Bantenan tertentu digunakan pada banyak upacara umum, sementara bantenan khusus digunakan untuk upacara-upacara khusus. Tatanan sesajen dasar membentuk kelompok-kelompok (soroh) mengelilingi bantenan inti, dan karena upacara dapat dilakukan dengan tingkat elaborasi yang berbeda-beda, tergantung tujuan upacara tersebut, arti dan status sosial dari para pesertanya, maka ukuran dan isi dari kelompok-kelompok sesajen ini juga berbeda berdasarkan elaborasi dari upacara tersebut.

Ukuran sesajen dapat diperbesar atau diperkecil agar sesuai dengan situasi upacara. Misalnya, bantenan pula gembal biasa berisi, antara lain, berlusin-lusin adonan beras yang disajikan dalam wadah daun kelapa. Pada upacara yang lebih tinggi, sesajen ini dibuat menjadi tatanan menara kue berwarna-warni dalam bentuk yang spektakuler, yang tingginya dapat mencapai beberapa meter.

Selain sesajen masal yang dikaitkan dengan upacara tertentu, setiap keluarga membawa sesajen mereka sendiri dalam ukuran besar dan berwarna-warni pada festival pura. Barisan dan kelompok wanita yang beramai-ramai membawa sesajen mereka menuju pura menghasilkan satu pemandangan yang spektakuler.

Di Pura, sesajen ini diletakkan ditempat yang sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Sesajen untuk para dewa dan roh para leluhur diletakkan di altar yang tinggi, sedangkan sesajen untuk roh-roh jahat diletakkan dibagian dasar. Perbedaan yang penting disini adalah sesajen yang diberikan untuk para roh jahat dapat berisi daging mentah, sementara sesajen untuk para dewa dan roh para leluhur bisa tidak berisi daging mentah. Sesajen khusus yang menjadi persyaratan suatu upacara diletakkan pada sebuah pavilion atau podium temporer.

Pada saat upacara dilakukan, seorang pendeta akan menyucikan sesajen yang ada dengan memercikkan air suci dan membacakan doa atau mantra. Asap dupa mengantar inti persembahan tersebut ke tujuannya masing-masing. Persembahan sesajen harian dirumah juga dilakukan dengan cara yang sama, yaitu dengan menggunakan air suci dan api. Setelah upacara selesai, dan “inti” dari sesajen ini telah terbakar, sesajen ini dapat dibawa pulang kerumah dan dikonsumsi oleh mereka yang melakukan penyembahan.

(Sumber : www.surgabali.biz/sesajen.php)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar